BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Tujuan
pembelajaran bukanlah penguasaan materi pelajaran, akan tetapi proses untuk
mengubah tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.[1]
Pencapaian tujuan pembelajran merupakan out put/out come dari sistem yang
berjalan. Dalam sebuah sistem tentu ada input, proses, dan output.
Pemebalajaran berada pada posisi tengah yaitu pada proses. Keberlangsunngan
proses sangat dipengaruhi oleh input yang memberi nilai masukan. Sehingga out
put sesuai dengan apa yang diharapkan. Proses akan berjalan lancar apabila
didukung dengan pengetahuan dan komponen-komponen yang memadai.
Banyak
pengajar yang dalam melaksanakan belajar mengajarnya tidak bisa mencapai
tujuan/kompetensi yang ditentukan. Penyebabnya adalah pemebelajaran tidak
sesuai dengan karakteristik siswa. Siswa inginnya “begini pengajar melakukan
begitu” tidak ada sinergitas antara pengajar dan siswa. Karakteristik siswa
merupakan salah satu faktor penyebab efektif dan tidaknya pembelajaran.
Dalam
pembelajaran kita mengenal istilah pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran
dan metode pemebeljaran. Ketiga istilah itulah yang menjadi fokus pembahasan
dalam makalah ini Karena itu merupakan komponen yang sangat mendukung untuk
memahami karakteristik siswa demi tercapainya tujuan pembelajaran. Proses
pemebelajaran akan berjalan efektif jika pendidik paham dan mengetahui
pendekatan pembelajaran yang berlanjut terhadap pemahaman strategi pembelajaran
dan memahami metode pembelajaran. Ketiga komponen ini merupakan satu kesatuan
yang akan mendukung terhadap pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan kompetensi
dan karakteristik siswa.
B. Rumusan
Masalah
Yang
menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah : “Pendekatan apa saja yang
dilakukan dalam metode pembelajaran” ?
C. Tujuan
Penulisan
Berdasarkan
rumusan masalahnya, maka yang menjadi tujuan dalam makalah ini adalah :
“Memahami pendekatan apa saja yang dapat dilakukan dalam metode pembelajaran”.
BAB I
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pendekatan
Istilah
pendekatan berasal dari bahasa Inggris approach yang salah satu artinya
adalah “Pendekatan”. Dalam pengajaran, approach diartikan sebagai a
way of beginning something ‘cara memulai sesuatu’. Karena itu, pengertian
pendekatan dapat diartikan cara memulai pembelajaran. Dan lebih luas lagi, pendekatan
berarti seperangkat asumsi mengenai cara belajar-mengajar. Pendekatan merupakan
titik awal dalam memandang sesuatu, suatu filsafat, atau keyakinan yang kadang
kala sulit membuktikannya. Pendekatan ini bersifat aksiomatis. Aksiomatis
artinya bahwa kebenaran teori yang digunakan tidak dipersoalkan lagi.
Pendekatan
pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya
suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi,
menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan
teoritis tertentu.
Dilihat dari
pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:
1. Pendekatan
pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered
approach), dimana pada pendekatan jenis ini guru melakukan pendekatan
dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam proses
pembelajaran, dan
2. Pendekatan
pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered
approach), dimana pada pendekatan jenis ini guru menjadi subjek utama dalam
proses pembelajaran.
B. Fungsi
Pendekatan dalam Pembelajaran
Fungsi
pendekatan bagi suatu pembelajaran adalah :
1. Sebagai
pedoman umum dalam menyusun langkah-langkah metode pembelajaran yang akan
digunakan.
2. Memberikan
garis-garis rujukan untuk perancangan pembelajaran.
3. Menilai
hasil-hasil pembelajaran yang telah dicapai.
4. Mendiaknosis
masalah-masalah belajar yang timbul, dan
5. Menilai
hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilaksanakan.
C. Macam-Macam
Pendekatan dalam Pembelajaran
1. Pendekatan
Kontekstual / Contextual Teaching and Learning (CTL)
Pendekatan
Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep
belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan
situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga dan masyarakat.[2]
Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam
status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menyadari
bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Sehingga, akan
membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal
yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk menggapinya.
Dalam
pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang
penting, yaitu :
a. Mengaitkan.
adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru
menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang
sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui
siswa dengan informasi baru.
b. Mengalami.
merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan
informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat
terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta
melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
c. Menerapkan.
Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah.
Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan
relevan.
d. Kerjasama.
Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang
signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat
mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama
tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan
dunia nyata.
e. Mentransfer.
Peran guru membuat bermacam-macam pengalaman belajar dengan focus pada
pemahaman bukan hafalan.
v Karakteristik
Pembelajaran CTL
a. Kerjasama.
b. Saling
menunjang.
c. Menyenangkan,
tidak membosankan.
d. Belajar
dengan bergairah.
e. Pembelajaran
terintegrasi.
f. Menggunakan
berbagai sumber.
g. Siswa
aktif.
h. Sharing
dengan teman.
i.
Siswa kritis guru
kreatif.
j.
Dinding dan
lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor
dan lain-lain.
k. Laporan
kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil
pratikum, karangan siswa dan lain-lain
v Tahapan-tahapan
Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual
Tahapan
pelaksanaan pembelajaran kontekstual antara lain :
a. Mengkaji
materi pelajaran yang akan diajarkan.
b. Mengkaji
konteks kehidupan siswa sehari-hari.
c. Memilih
materi pelajaran yang dapat dikaitkan dengan kehidupan siswa.
d. Menyusun
persiapan proses KBM yang telah memasukkan konteks dengan materi pelajaran.
e. Melaksanakan
proses belajar mengajar kontekstual.
f. Melakukan
penilaian otentik terhadap apa yang telah dipelajari siswa.
v Kelebihan
pendekatan Kontekstual
a. Pembelajaran
menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap
hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini
sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan
kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara
fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam
memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
b. Pembelajaran
lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena
metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa
dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis
konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.
v Kelemahan
Pendekatan Kontekstual
a. Guru
lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi
berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai
sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan
yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang.
Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan
keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai
instruktur atau ”penguasa” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah
pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
b. Guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide
dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi-strategi
mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan
perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran
sesuai dengan apa yang diterapkan semula.
2. Pendekatan
Kontruktivisme
Pendekatan
konstruktivisme merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang lebih menekankan
pada tingkat kreatifitas siswa dalam menyalurkan ide-ide baru yang dapat
diperlukan bagi pengembangan diri siswa yang didasarkan pada pengetahuan.
Secara
umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar
dalam memberikan arti, serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan
sosial. Tidak ada satupun teori belajar tentang konstruktivisme, namun terdapat
beberapa pendekatan konstruktivis, misalnya pendekatan yang khusus dalam
pendidikan matematik dan sains. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky
menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme
sosial); sedangkan yang lain seperti Piaget melihat konstruksi individu lah
yang utama (konstruktivisme individu).
v Konstrukstivisme
Individu
Para
psikolog konstruktivis yang tertarik dengan pengetahuan individu, kepercayaan,
konsep diri atau identitas adalah mereka yang biasa disebut konstruktivis
individual. Riset mereka berusaha mengungkap sisi dalam psikologi manusia dan
bagaimana seseorang membentuk struktur emosional atau kognitif dan strateginya
v Konstrukstivisme
Sosial
Berbeda
dengan Piaget, Vygotsky percaya bahwa pengetahuan dibentuk secara sosial, yaitu
terhadap apa yang masing-masing partisipan kontribusikan dan buat secara
bersama-sama. Sehingga perkembangan pengetahuan yang dihasilkan akan
berbeda-beda dalam konteks budaya yang berbeda. Interaksi sosial, alat-alat
budaya, dan aktivitasnya membentuk perkembangan dan kemampuan belajar
individual.
v Ciri-ciri
pendekatan konstruktivisme
a. Dengan
adanya pendekatan konstruktivisme, pengembangan pengetahuan bagi peserta didik
dapat dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui kegiatan penelitian atau
pengamatan langsung sehingga siswa dapat menyalurkan ide-ide baru sesuai dengan
pengalaman dengan menemukan fakta yang sesuai dengan kajian teori.
b. Antara
pengetahuan-pengetahuan yang ada harus ada keterkaitan dengan pengalaman yang
ada dalam diri siswa.
c.
Setiap siswa mempunyai
peranan penting dalam menentukan apa yang mereka pelajari.
Peran
guru hanya sebagai pembimbing dengan menyediakan materi atau konsep apa yang
akan dipelajari serta memberikan peluang kepada siswa untuk menganalisis sesuai
dengan materi yang dipelajari.
v Prinsip
Pendekatan konstruktivisme
Pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan Konstruktivime akan mengaktifkan siswa secara
aktif sehingga pembelajaran yang didapat oleh siswa lebih didasarkan pada
proses pencapaian pengetahuan itu bukan pada hasilnya.
Prinsip
konstruktivisme telah banyak digunakan dalam pembelajaran. Ada beberapa prinsip
dari konstruktivisme antara lain :[3]
a. Pengetahuan
dibangun oleh siswa secara aktif .
b. Tekanan
dalam pembelajaran terletak pada siswa.
c. Mengajar
adalah membantu siswa belajar.
d. Tekanan
dalam pembelajaran lebih pada proses bukan pada akhir .
e. Kurikulum
menekankan pada partisipasi siswa.
f. Guru
adalah fasilitator.
Sedangkan
menurut Brooks dalam Subana, prinsip konstruktivisme yaitu:[4]
a. Ajukan
masalah yang relevan dengan siswa,
b. Struktur
pembelajaran pada konsep-konsep eensial,
c. Usahakan
menemukan dan menilai pandangan siswa,
d. Adaptasikan
kurikulum, dan
e. Ukur
belajar siswa dalam konteks belajar.
Berdasarkan
pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip pembelajaran dengan pendekatan
konstruktivisme antara lain siswa aktif mencari tahu dengan membentuk
pengetahuan baru sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dalam
mengkonstruksikan pengetahuan tersebut sebagaimana tuntunan kurikulum.
v Karakteristik
Pembelajaran Konstruktivisme
Adapun
karakteristik pendekatan konstruktivisme menurut Driver dalam Paul, bahwa
karakteristik pembelajaran konstruktivisme adalah:[5]
a. Orientasi
ialah siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi dalam mempelajari
suatu topik
b. Elicitasi
ialah membantu siswa untuk mengungkapkan idenya secara jelas
c. Retrukturisasi
ide terdiri dari klarifikasi ide, membangun ide yang baru, mengevaluasi ide
baru dengan eksperimen
d. Penggunaan
ide dalam banyak situasi
e. Review
adalah bagaimana ide itu berubah.
Sedangkan
menurut Smorgansbord menyatakan beberapa karakteristik tentang konstruktivisme
yaitu :[6]
a. Pengetahuan
dibangun berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya
b. Belajar
merupakan penasiran personal tentang dunia
c. Belajar
merupakan proses yang aktif dimana makna diembangkan berdasarkan pengalaman
d. Pengetahuan
tumbuh karena adanya perundingan makna melalui berbagai informasi atau
menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi
e. Belajar
harus disituasikan dalam kehidupan yang nyata.
v Langkah
Pelaksanaan Pendekatan Konstruktivisme
Langkah
pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme, menurut Nurhadi bahwa penerapan
konstruktivisme muncul dengan lima langkah pembelajaran yaitu sebagai berikut:[7]
a. Pengaktifan
pengetahuan yang sudah ada, Pengetahuan awal yang sudah dimiliki peserta didik
akan menjadi dasar awal untuk mempelajari informasi baru. Langkah ini dapat
dilakukan dengan cara pemberian pertanyaan terhadap materi yang akan dibahas.
b. Pemerolehan
pengetahuan baru, Pemerolehan pengetahuan perlu dilakukan secara keseluruhan
tidak dalam paket yang terpisah-pisah.
c. Pemahaman
pengetahuan, Siswa perlu menyelidiki dan menguji semua hal yang memungkinkan
dari pengetahuan baru siswa.
d. Menerapkan
pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh, Siswa memerlukan waktu untuk
memperluas dan memperhalus stuktur pengetahuannya dengan cara memecahkan
masalah yang di temui.
e. Melakukan
refleksi., Pengetahuan harus sepenuhnya dipahami dan diterapkan secara luas,
maka pengetahuan itu harus dikontekstualkan dan hal ini memerlukan refleksi.
Sedangkan
menurut langkah-langkah pembelajaran konstruktivisme antara lain :[8]
a. Carilah
dan gunakanlah pertanyaan dan gagasan siswa untuk menuntun pelajaran dan
keseluruhan unit pembelajaran
b. Biarkan
siswa mengemukakan gagasan-gagasan mereka dulu
c. Kembangkan
kepemimpinan, kerja sama, pencarian informasi, dan aktivitas siswa sebagai
hasil dalam proses belajar
d. Gunakan
pemikiran, pengalaman, dan minat siswa untuk mengarahkan proses pembelajaran
e. Kembangkan
penggunakan alternatif sumber informasi baik dalam bentuk bahan tertulis maupun
bahan-bahan para pakar.
f. Usahakan
agar siswa mengemukakan sebab-sebab terjadinya suatu peristiwa
g. Carilah
gagasan-gagasan siswa sebelum guru menyajikan pendapatnya.
h. Buatlah
agar siswa tertantang dengan konsepi dan gagasan-gagasan mereka sendiri
i.
Sediakan waktu cukup
untuk berefleksi dan menganalisis menghormati gagasan siswa
j.
Doronglah siswa untuk
melakukan analisis sendiri, mengumpulkan bukti nyata untuk mendukung gagasannya
sesuai dengan pengetahuan baru yang dipelajarinya
k. Gunakanlah
masalah yang diidentifikasikan oleh siswa sesuai dengan minantya dan dampak
yang akan ditimbulkannya
l.
Gunakan sumber-sumber
lokal sebagai sumber informasi asli yang digunakan dalam pemecahan masalah.
m. Libatkan
siswa dalam mencari pemecahan masalah yang ada dalan kenyataan.
n. Perluas
belajar seputar jam pelajaran, ruangan kelas, dan lingkungan sekolah.
o. Pusatkan
perhatian pada dampak sains pada setiap individu siswa
p. Tekankan
kesadaran karir terutama yang berhubungan dengan sains dan teknologi”.
v Kelebihan
Pendekatan Konstruktivisme
Dalam
penerapannya, pendekatan konstruktivisme memiliki kelebihan dan kekurangan.
Menurut Ella menjelaskan bahwa pendekatan konstruktivisme membantu siswa
menguasai tiga hal , yaitu:[9]
a. Siswa
diajak memahami dan menafsirkan kenyataan dan pengalamannya yang berbeda.
b. Siswa
lebih mampu mengatasi masalah dalam kehidupan nyata.
c. Pemahaman
konstruktivisme, yaitu membangun dan mengetahui bagaimana menggunakan
pengetahuan dan keahlian dalam situasi kehidupan nyata.
Dengan
adanya kelebihan pada pendekatan konstruktivisme ini maka siswa di harapkan
dapat menyelesaikan masalah dengan berbagai cara, jadi peserta didik akan
terlatih untuk dapat menerapkannya dengan situasi yang berbeda atau baru.
v Kekurangan
Pendekatan Konstruktivisme
Selain memiliki
kelebihan pendekatan konstruktivisme juga memiliki kekurangan. Namun kekurangan
ini dapat kita atasi seperti:
a. Siswa
masih kesulitan dalam menemukan sendiri jawabannya
b. Membutuhkan
waktu yang lama terutama bagi siswa yang lemah
c. Siswa
yang pandai kadang-kadang tidak sabar dalam menanti temannya yang belum
selesai.
Dari
uraian tadi dapat disimpulkan kelemahan pendekatan konstruktivisme dapat
ditolerir, maka guru hendaknya dapat membimbing siswa agar dapat menemukan
jawabannya, kemudian guru menambah waktu belajar bagi siswa yang lemah dalam
proses pembelajaran, serta memberikan nasehat agar menghargai teman dalam
belajar Sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
3. Pendekatan
Deduktif
Menurut
Setyosari menyatakan bahwa “Berpikir deduktif merupakan proses berfikir yang
didasarkan pada pernyataan-pernyataan yang bersifat umum ke hal-hal yang
bersifat khusus dengan menggunakan logika tertentu.”[10]
Hal
serupa dijelaskan oleh Sagala, yang menyatakan bahwa: Pendekatan deduktif adalah
proses penalaran yang bermula dari keadaaan umum kekeadaan yang khusus sebagai
pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum
diikuti dengan contoh-contoh khusus atau penerapan aturan, prinsip umum itu
kedalam keadaan khusus.[11]
Sedangkan
menurut Yamin, menyatakan bahwa “Pendekatan deduktif merupakan pemberian
penjelasan tentang prinsip-prinsip isi pelajaran, kemudian dijelaskan dalam
bentuk penerapannya atau contoh-contohnya dalam situasi tertentu.”[12]
Dalam
pendekatan deduktif menjelaskan hal yang berbentuk teoritis kebentuk realitas
atau menjelaskan hal-hal yang bersifat umum ke yang bersifat khusus. Disini
guru menjelaskan teori-teori yang telah ditemukan para ahli, kemudian
menjabarkan kenyataan yang terjadi atau mengambil contoh-contoh.
Dari
penjelasan beberapa teori dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan deduktif
adalah cara berfikir dari hal yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat
khusus.
v Penggunaan
Pendekatan Deduktif
Menurut Yamin pendekatan deduktif
dapat dipergunakan bila:[13]
a. Siswa
belum mengenal pengetahuan yang sedang dipelajari,
b. Isi
pelajaran meliputi terminologi, teknis dan bidang yang kurang membutuhkan
proses berfikir kritis,
c. Pengajaran
mengenai pelajaran tersebut mempunyai persiapan yang baik dan pembicaraan yang
baik,
d. Waktu
yang tersedia sedikit.
v Langkah-langkah
Pendekatan Deduktif
Menurut Sagala
langkah-langkah yang dapat digunakan dalam pendekatan deduktif dalam
pembelajaran adalah :[14]
a. Guru
memilih konsep, prinsip, aturan yang akan disajikan dengan pendekatan deduktif,
b. Guru
menyajikan aturan, prinsip yang berifat umum, lengkap dengan definisi dan
contoh-contohnya,
c. Guru
menyajikan contoh-contoh khusus agar siswa dapat menyusun hubungan antara
keadaan khusus dengan aturan prinsip umum,
d. Guru
menyajikan bukti-bukti untuk menunjang atau menolak kesimpulan bahwa keadaan
khusus itu merupakan gambaran dari keadaan umum.
v Kelebihan
Pendekatan Deduktif
Adapun kelebihan
dari pendekatan deduktif dibandingkan dengan pendekatan lain adalah :
a. Tidak
memerlukan banyak waktu.
b. Sifat
dan rumus yang diperoleh dapat langsung diaplikasikan kedalam soal-soal atau
masalah yang konkrit.
v Kelemahan
Pendekatan Deduktif
Kelemahan
pendekatan deduktif antara lain:
a. Siswa
sering mengalami kesulitan memahami makna matematika dalam pembelajaran. Hal
ini disebabkan siswa baru bisa memahami konsep setelah disajikan berbagai
contoh.
b. Siswa
sulit memahami pembelajaran matematika yang diberikan karna siswa menerima
konsep matematika yang secara langsung diberikan oleh guru.
c. Siswa
cenderung bosan dengan pembelajaran dengan pendekatan deduktif, karna disini
siswa langsung menerima konsep matematika dari guru tanpa ada kesempatan
menemukan sendiri konsep tersebut.
d. Konsep
tidak bisa diingat dengan baik oleh siswa.
4. Pendekatan
Induktif
Menurut
Yamin,[15]
menyatakan bahwa: Pendekatan induktif dimulai dengan pemberian kasus, fakta,
contoh, atau sebab yang mencerminkan suatu konsep atau prinsip. Kemudian siswa
dibimbing untuk berusaha keras mensintesiskan, menemukan, atau menyimpulkan
prinsip dasar dari pelajaran tersebut.
Mengajar
dengan pendekatan induktif adalah cara mengajar dengan cara penyajian kepada
siswa dari suatu contoh yang spesifik untuk kemudian dapat disimpulkan menjadi
suatu aturan prinsip atau fakta yang pasti.
v Penggunaan
Pendekatan Induktif
Menurut Yamin,
pendekatan induktif tepat digunakan manakala:[16]
a. Siswa
telah mengenal atau telah mempunyai pengalaman yang berhubungan dengan mata
pelajaran tersebut,
b. Yang
diajarkan berupa keterampilan komunikasi antara pribadi, sikap, pemecahan, dan
pengambilan keputusan,
c. Pengajar
mempunyai keterampilan fleksibel, terampil mengajukan pertanyaan terampil
mengulang pertanyaan, dan sabar,
d. Waktu
yang tersedia cukup panjang.
v Kelebihan
Pendekatan Induktif
Adapun kelebihan
dari pendekatan induktif dibandingkan dengan pendekatan antara lain adalah :
a. Memberikan
kesempatan pada siswa untuk berusaha sendiri atau menemukan sendiri suatu
konsep sehingga akan diingat dengan lebih baik.
b. Murid
memahami sifat atau rumus melalui serangkaian contoh. Kalau terjadi keraguan
mengenai pengertian dapat segera diatasi sejak masih awal.
c. Dapat
meningkatkan semangat belajar siswa.
v Kelemahan
Pendekatan Induktif
Kelemahan dari
pendekatan induktif antara lain :
a. Memerlukan
banyak waktu.
b. Kadang-kadang
hanya sebagian siswa yang terlibat secara aktif.
c. Sifat
dan rumus yang diperoleh masih memerlukan latihan atau aplikasi untuk
memahaminya.
d. Secara
matematik (formal) sifat atau rumus yang diperoleh dengan pendekatan induktif
masih belum menjamin berlaku umum.
5. Pendekatan
Konsep
Pendekatan
Konsep merupakan suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan
konsep tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep
itu diperoleh.
v Ciri-ciri
suatu konsep adalah:
a. Konsep
memiliki gejala-gejala tertentu
b. Konsep
diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman langsung
c. Konsep
berbeda dalam isi dan luasnya
d. Konsep
yang diperoleh berguna untuk menafsirkan pengalaman-pengalaman
e. Konsep
yang benar membentuk pengertian
f. Setiap
konsep berbeda dengan melihat ciri-ciri tertentu
Kondisi-kondisi
yang dipertimbangkan dalam kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan konsep
adalah:
a. Menanti
kesiapan belajar, kematangan berpikir sesuai denaan unsur lingkungan.
b. Mengetengahkan
konsep dasar dengan persepsi yang benar yang mudah dimengerti.
c. Memperkenalkan
konsep yang spesifik dari pengalaman yang spesifik pula sampai konsep yang
kompleks.
d. Penjelasan
perlahan-lahan dari yang konkret sampai ke yang abstrak.
6. Pendekatan
Proses
Pendekatan
proses adalah pendekatan yang berorientasi pada proses bukan hasil. Pada pendekatan
ini peserta didik diharapkan benar-benar menguasai proses. Pendekatan ini
penting untuk melatih daya pikir atau mengembangkan kemampuan berpikir dan
melatih psikomotor peserta didik. Dalam pendekatan proses peserta didik juga
harus dapat mengilustrasikan atau memodelkan dan bahkan melakukan percobaan.
Evaluasi pembelajaran yang dinilai adalah proses yang mencakup kebenaran cara
kerja, ketelitian, keakuratan, keuletan dalam bekerja dan sebagainya.
v Kelebihan
Pendekatan Proses
Keunggulan/Kelebihan
pendekatan proses adalah :
a. Memberi
bekal cara memperoleh pengetahuan, hal yang sangat penting untuk pengembangan
pengetahuan dan masa depan.
b. Pendahuluan
proses bersifat kreatif, siswa aktif, dapat meningkatkan keterampilan berfikir
dan cara memperoleh pengetahuan.
vKelemahan
Pendekatan Proses
Kelemahan
pendekatan proses adalah :
a. Memerlukan
banyak waktu sehingga sulit untuk dapat menyelesaikan pengajaran yang
ditetapkan dalam kurikulum.
b. Memerlukan
fasilitas yang cukup baik dan lengkap sehingga tidak semua sekolah dapat
menyediakannya.
c. Merumuskan
masalah, menyusun hipotesis, merancangkan suatu percobaan untuk memperoleh data
yang relevan adalah pekerjaan yang sulit, tidak semua siswa mampu
melaksanakannya.
7. Pendekatan
Open-Ended
Menurut
Suherman dkk,[17] problem
yang diformulasikan memiliki multijawaban yang benar disebut problem tak
lengkap atau disebut juga Open-Ended problem atau soal terbuka. Siswa yang
dihadapkan dengan Open-Ended problem, tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan
jawaban tetapi lebih menekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban.
Dengan demikian bukanlah hanya satu pendekatan atau metode dalam mendapatkan
jawaban, namun beberapa atau banyak.
v Kelebihan
pendekatan Open–Ended.
Dalam
pendekatan open-ended guru memberikan permasalah kepada siswa yang solusinya
tidak perlu ditentukan hanya melalui satu jalan. Guru harus memanfaatkan
keragaman cara atau prosedur yang ditempuh siswa dalam menyelesaikan masalah.
Hal tersebut akan memberikan pengalaman pada siswa dalam menemukan sesuatu yang
baru berdasarkan pengetahuan, keterampilan dan cara berfikir matematik yang
telah diperoleh sebelumnya. Ada beberapa kelebihan dari pendekatan ini, antara
lain:
a. Siswa
memiliki kesempatan untuk berpartisipasi secara lebih aktif serta memungkinkan
untuk mengekspresikan idenya.
b. Siswa
memiliki kesempatan lebih banyak menerapkan pengetahuan serta keterampilan
matematika secara komprehensif.
c. Siswa
dari kelompok lemah sekalipun tetap memiliki kesempatan untuk mengekspresikan
penyelesaian masalah yang diberikan dengan cara mereka sendiri.
d. Siswa
terdorong untuk membiasakan diri memberikan bukti atas jawaban yang mereka
berikan.
e. Siswa
memiliki banyak pengalaman, baik melalui temuan mereka sendiri maupun dari
temannya dalam menjawab permasalahan.
v Kelemahan
Pendekatan Open–Ended.
Disamping
kelebihan yang dapat diperoleh dari pendekatan open-ended, terdapat juga
beberapa kelemahan, diantaranya:
a. Sulit
membuat atau menyajikan situasi masalah matematika yang bermakna bagi siswa.
b. Mengemukakan
masalah yang langsung dapat dipahamai siswa sangat sulit sehingga banyak siswa
yang mengalami kesulitan bagaimana merespon permasalahan yang diberikan.
c. Karena
jawaban bersifat bebas, siswa dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau
mencemaskan jawaban mereka.
d. Mungkin
ada sebagian siswa yang merasa bahwa kegiatan belajar mereka tidak menyenangkan
karena kesulitan yang mereka hadapi.
8. Pendekatan
Saintific
Kurikulum
2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu
menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (saintifik appoach)
dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggali informasi melaui
pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data atau informasi,
menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar,
kemudian menyimpulkan, dan mencipta. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi
tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan
secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran
harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari
nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah.
v Tujuan
Pembelajaran Pendekatan Saintific
Beberapa tujuan
pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah:
a. untuk
meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi
siswa.
b. untuk
membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik.
c. terciptanya
kondisi pembelajaran dimana siswa merasa bahwa belajar itu merupakan suatu
kebutuhan.
d. diperolehnya
hasil belajar yang tinggi.
e. untuk
melatih siswa dalam mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis artikel
ilmiah
f. Untuk
mengembangkan karakter siswa.
v Prinsip
Pendekatan Saintific
Prinsip-prinsip
dalam pembelajaran dengan pendekatan saintific antara lain :
a. pembelajaran
berpusat pada siswa
b. pembelajaran
membentuk students’ self concept
c. pembelajaran
memberikan kesempatan pada siswa untuk mempelajari, mnganalisis, menyimpulkan
konsep, pengetahuan, dan prinsip.
d. pembelajaran
mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berpikir siswa
e. Pembelajaran
meningkatkan motivasi
9. Pendekatan
Realistik
Realistic
Mathematics Education (RME) dikembangkan olehHans Frudenthal di Belanda.
Realistic Mathematics Education (RME) adalah pendekatan pengajaran yang
bertitik tolak dari hal-hal yang ‘real’ bagi siswa, menekankan ketrampilan
‘proses of doing mathematics’, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi
dengan teman sekelas sehinggga mereka dapat menemukan sendiri (‘student
inventing’ sebagai kebalikan dari ‘teacher telling’) dan pada akhirnya
menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu
maupun secara kelompok.[18]
Pengertian
pendekatan realistik menurut Sofyan, “sebuah pendekatan pendidikan yang
berusaha menempatkan pendidikan pada hakiki dasar pendidikan itu sendiri”.[19]
v Tujuan
Pendekatan Realistik (RME)[20]
Tujuan
Pembelajaran Matematika Realistik sebagai berikut:
a. Menjadikan
matematika lebih menarik,relevan dan bermakna,tidak terlalu formal dan tidak
terlalu abstrak
b. Mempertimbangkan
tingkat kemampuan siswa.
c. Menekankan
belajar matematika “learning by doing”.
d. Memfasilitasi
penyelesaian masalah matematika tanpa menggunakan penyelesaian yang baku.
e. Menggunakan
konteks sebagai titik awal pembelajaran matematika.
Gravemeijer
dalam fitri, menyebutkan tiga prinsip kunci dalam pendekatan realistik, ketiga
kunci tersebut adalah:[21]
a. Penemuan
kembali secara terbimbing/ matematika secara progresif(Gunded Reinvention/
Progressive matematizing). Dalam menyeleseikan topik- topik matematika, siswa
harus diberi kesempatan untuk mengalami proses yang sama, sebagai koknsep- konsep
matematika dikemukakan. Siswa diberikan masalah nyata yang memungkinkan adanya
penyeleseian yang berbeda.
b. Didaktif
yang bersifat fenomena(didaktial phenomology) topik matematika yang akan
diajarkan diupayakan berasal dari fenomenan sehari-hari.
c. Model
yang dikembangkan sendiri(self developed models) dalam memecahkan ‘contextual
problem”, mahasiswa diberi kesempatan untuk mengembangkan model mereka sendiri.
Pengembangan model ini dapat berperan dalam menjembatani pengetahuan informal
dan pengetahuan formal serta konkret dan abstrak.
v Kelebihan
Pembelajaran Matematika Realistik
Beberapa
keunggulan/kelebihan dari pembelajaran metematika realistik antara lain:
a. Pelajaran
menjadi cukup menyenangkan bagi siswa dan suasana tegang tidak tampak.
b. Materi
dapat dipahami oleh sebagian besar siswa.
c. Alat
peraga adalah benda yang berada di sekitar, sehingga mudah didapatkan.
d. Guru
ditantang untuk mempelajari bahan.
e. Guru
menjadi lebih kreatif membuat alat peraga.
f. Siswa
mempunyai kecerdasan cukup tinggi tampak semakin pandai.
v Kelemahan
Pembelajaran Matematika Realistik
Beberapa
kelemahan dari pembelajaran metematika realistik antara lain:
a. Sulit
diterapkan dalam suatu kelas yang besar(40- 45 orang).
b. Dibutuhkan
waktu yang lama untuk memahami materi pelajaran.
c. Siswa
yang mempunyai kecerdasan sedang memerlukan waktu yang lebih lama untuk mampu
memahami materi pelajaran.
10. Pendekatan
Science, Technology and Sosiery dan Masyarakat
Pendekatan
Science, Technology and Society (STS) atau pendekatan Sains, Teknologi dan
Masyarakat (STM) merupakan gabungan antara pendekatan konsep, keterampilan
proses, Inkuiri dan diskoveri serta pendekatan lingkungan. Istilah Sains
Teknologi Masyarakat (STM) dalam bahasa Inggris disebut Sains Technology
Society
(STS), Science Technology Society and Environtment (STSE) atau Sains Teknologi
Lingkungan dan Masyarakat. Meskipun istilahnya banyak namun sebenarnya intinya
sama yaitu Environtment, yang dalam berbagai kegiatan perlu ditonjolkan. Sains
Teknologi Masyarakat (STM) merupakan pendekatan terpadu antara sains,
teknologi, dan isu yang ada di masyarakat. Adapun tujuan dari pendekatan STM
ini adalah menghasilkan peserta didik yang cukup memiliki bekal pengetahuan,
sehingga mampu mengambil keputusan penting tentang masalah-masalah dalam
masyarakat serta mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang telah
diambilnya.
Filosofi
yang mendasari pendekatan STM adalah pendekatan konstruktivisme, yaitu peserta
didik menyusun sendiri konsep-konsep di dalam struktur kognitifnya berdasarkan
apa yang telah mereka ketahui.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Æ Pendekatan
pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya
suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi,
menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan
teorItis tertentu.
Æ Fungsi
pendekatan bagi suatu pembelajaran adalah :
o Sebagai
pedoman umum dalam menyusun langkah-langkah metode pembelajaran yang akan
digunakan.
o Memberikan
garis-garis rujukan untuk perancangan pembelajaran.
o Menilai
hasil-hasil pembelajaran yang telah dicapai.
o Mendiaknosis
masalah-masalah belajar yang timbul, dan
o Menilai
hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilaksanakan.
Æ Ada
beberapa pendekatan dasar yang bisa dilakukan dalam pembelajaran, yaitu :
o Pendekatan
Kontekstual / Contextual Teaching and Learning (CTL)
o Pendekatan
Kontruktivisme
o Pendekatan
Deduktif
o Pendekatan
Induktif
o Pendekatan
Konsep
o Pendekatan
Proses
o Pendekatan
Open – Ended
o Pendekatan
Saintific
o Pendekatan
Realistik
o Pendekatan
Sains, Teknologi, dan Masyarakat
DAFTAR
PUSTAKA
Gintings,
abdurarakhman. Belajar dan Pemebelajaran.2008. Bandung: Humaniora.
http://sakinahninaarz009..co.id/2014/06/macam-macam-pendekatan
pembelajaran.html
John.
W. Santrock. Psikologi Pendidikan edisi kedua.2008.jakarta:kencana.
Sanjaya
Kurikulum dan Pemebelajaran (Jakarta, Kencana prenada Media Group)
Siregar,
eveline dan hartin. Teori Belajarda dan Pemebeljaran.2010. Bogor: ghalia
indonesia.
Slameto.
Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya.1997. Bandung: Rineka Cipta.
Subana,
metode dan teknik pembelajaran partispatif, 2001, bandung : falah production
Syaiful
Sagala. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung; Alfabeta
Uus, Ruswandi dan Badrudin.
Pengembangangn Kepribadian Guru. 2010. Bandung: Insan Mandiri.
Wina, sanjaya. Kurikulum dan
Pemebelajaran.20010. Jakarta: Kencana prenada Media Group.
Www.Google.com
[1] Sanjaya Kurikulum dan Pemebelajaran (Jakarta, Kencana prenada Media
Group) h. 215
[2] (US Departement of Education, 2001).
[3] Suparno, 1999. h.73
[4] Subana, 2001. h.47
[5] Driver, 1996. H.69
[6] Smogransbord, 1997. h.54
[7] Nurhadi, 2003. H.39
[8] Kunandar, 2007. H.307
[9] Ella, 2005. H.55
[10] Setyosari, 2010. h.7
[11] Segala, 2010. h.76
[12] Yasmin, 2008.h.89
[13] Yasmin, 2008.h.89
[14] Segala, 2010.h.76
[15] Yasmin, 2008.h.89
[16] Yasmin, 2008.h.90
[17] Suherman, 2003.h.123
[18] Zulkardi, 2009
[19] Sofyan, 2007.h.28
[20] Kuiper & Kouver, 1993
[21] Gravemeijen, 2007.h.10
Posting Komentar
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.